Friday, March 15, 2013

Laporan farmakologi cara pemberian obat melalui intraperitonial

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI
CARA PEMBERIAN OBAT
INTRAPERITONIAL




OLEH:
FEBRIYANI LESTARI
S.11.961




AKADEMI KEBIDANAN SARI MULIA
BANJARMASIN
TAHUN 2013



BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
I.    PENDAHULUAN
Dalam pengelolaan penderita, ketepatan cara pemberian obat bisa menjadi faktor penentu keberhasilan suatu pengobatan, karena cepat lambatnya obat sampai ditempat kerjanya (site of action) sangat tergantung pada cara pemberian obat.
Ada berbagai cara pemberian obat diantaranya dapat diberikan secara peroral melalui mulut dimana obat melewati saluran pencernaan dan ini sering disebut dengan enteral.Absorbsi obat yang diberikan secara oral dapat berlangsung didalam mulut, lambung ataupun usus. Absorbsi dapat berlangsung dimulut melalui mukosa mulut, jika obat diberikan secara sublingual (dibawah lidah) atau secara bukal (antara mukosa pipi dan gusi). Cara ini dapat menguntungkan karena mencegah perusakan obat oleh asam lambung. Disamping itu,obat dari lambungakan dibawa ke hati melalui vena porta sehingga dapat dimetabolisme oleh hati. Hal ini harus diperhitungkan agar jangan sampai salah hitung pada pemberian dosis. Jika dikehendaki bahan aktif obat tidak dirusak oleh asam lambung, maka sediaan obat (tablet) dapat dibuat agar tidak mengalami desintegrasi atau pecah didalam lambung tapi baru pecah didalam usus. Dengan cara melapisi bahan obat dengan bahan yang tahan asam. Jika absorbsi terjadi di usus, obat dapat mengalami metabolisme oleh hati pada saat pertama kali melintasi hati (first pass metabolism).
Pemberian obat melalui saluran cerna yang dapat menghindari obat dari first pass metabolism adalah secara sublingual dan perektal (rectum). Setelah di absorbs melewati mukosa rectum maka obat dibawa oleh aliran darah vena hemorhoidalis inferior langsung masuk kedalam vena cava inferior tanpa melalui vena porta.
Pemberian obat secara parenteral dapat melalui saluran nafas (per inhalasi), langsung pada tempat yang dituju (topical). Obat dapat pula dimasukkan kedalam tubuh melalui suntikan (injeksi) dengan cara intracutan ( disuntikkan didalam kulit diatas membran basalis), subcutan (dibawah kulit), intramuscular (didalam bundel otot lurik), intraperitoneal ( didalam rongga peritoneum), intrakardial (langsung kedalam rongga jantung), intratecal (kedalam cairan serebrospinal), intrasinovial (dalam rongga sendi) dan intravena (langsung kepembuluh darah vena).

Keuntungan pemberian obat secara parenteral :
• Efek timbulnya lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian peroral.
• Dapat diberikan pada penderita yang tidak kooperatif, tidak sadar atau muntah-muntah.
• Sangat berguna dalam keadaan darurat.
Kerugian pemberian obat secara parenteral :
• Dibutuhkan cara asepsis.
• Menyebabkan rasa nyeri.
• Bahaya penularan hepatitis serum.
• Sukar dilakukan sendiri oleh penderita.
• Tidak ekonomis.
Pemberian dengan cara intravena paling cepat responnya karena tidak mengalami tahap absorbsi, maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat, dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita. Kerugiannya efek toksik mudah terjadi karena kadar obat yang tinggi segera mencapai darah dan jaringan, disamping itu obat yang disuntikkan secara intravena tidak dapat ditarik kembali. Obat dalam larutan minyak yang mengendapkan konstituen darah dan menyebabkan hemolisis tidak boleh diberikan dengan cara intravena.
Suntikan secara subcutan dan intracutan hanya boleh digunakan untuk obat yang tidak menyebabkan iritasi jaringan. Absorbsi biasanya terjadi lambat dan konstan sehingga efeknya bertahan lama. Pencampuran obat dengan vasokontriktorjuga akan memperlambat absorbsi obat tersebut. intramuscular, kelarutan obat dalam air menentukan kecepatan dan kelengkapan absorbsinya. Obat yang sukar larut pada pH fisiologis misalnya digoksin, fenitoin dan diazepam akan mengendap ditempat suntikan sehingga absorbsinya berjalan lambat, tidak lengkap dan tidak teratur.
Suntikan intraperitoneal tidak dapat dilakukan pada manusia karena bahaya infeksi dan adesi terlalu besar.
   



BAB II
PEMBAHASAN
Absorbsi merupakan pengambilan obat dari permukaan tubuh atau dari tempat-tempat tertentu pada organ ke dalam aliran darah. Dimana dipengaruhi beberapa factor yakni cara pemberian obat dan bentuk sediaan. Pada percobaan kali ini dilakukan empat cara yaitu peroral, subkutan, intraperitonial, intramuscular. Kecepatan absorbsinyapun berbeda pada masing-masing cara pemberian yang dapat menunjukan keefektifan obat tersebut.
Pada percobaan ini digunakan kelinci sebagai hewan uji karena disamping harganya yang ekonomis, dapat dilihat pula dari keekonomisan jumlah luminal yang diberikan pada volume pemberiaanya. Sebelumnya kelinci harus mengalami praperlakuan yakni dipuasakan yang bertujuan agar setiap kelinci memiliki aktivitas enzim yang sama selain itu agar tidak menghalangi bahan obat diserap dalam tubuh.
Pada percobaan ini menggunakanPentobarbital atau Diazepam  yang sifatnya larut dalam lemak. Dalam peraktek kali ini menggunakan dosis 3% sesuai dengan berat hewan uji. obat ini akan mencapai MEC (Minimal Effective Consentration) tertinggi sehingga kelinci akan tertidur dan akan bangun lagi karena secara farmakokinetik golongan obat barbiturate yaitu fenobarbital itu larut dalam lemak, saat keadaan plasma meningkat obat di lepaskan jadi kelinci nya tidur, tetapi saat keadaan plasma menurun, obat tetap tertimbun dalam lemak jadi kelinci bangun begitu seterusnya. Fenobarbital memiliki sifat redistribusi yaitu efek kalau pada kelinci, setelah efek anestesi hilang, obat akan di keluarkan dari depot lemak secara perlahan, itu yang membuat kelinci bangun tidur kembali.
Cara pemberian dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi obat yang berpengaruh juga terhadap onset dan durasi. Pada literature dijelaskan bahwa onset paling cepat adalah intraperitonial, intramuscular, subkutan, peroral. Hal ini terjadi karena :
•         Intraperitonial mengandung banyak pembuluh darah sehingga obat langsung masuk ke dalam pembuluh darah.
•         Intramuscular mengandung lapisan lemak yang cukup kecil sehingga obat akan terhalang oleh lemak sebelum terabasorbsi.
•         Subkutan mengandung lemak yang cukup banyak.
•         Peroral disini obat akan mengalami rute yang panjang untuk mencapai reseptor karena melalui saluran cerna yang memiliki banyak factor penghambat seperti protein plasma.
Dan durasi paling cepat adalah peroral, intraperitonial, intramuscular, subkutan. Hal ini terjadi karena :
•         Peroral, karena melalui saluran cerna yang memiliki rute cukup panjang dan banyak factor penghambat maka konsentrasi obat yang terabsorbsi semakin sedikit dan efek obat lebih cepat.
•         Intraperitonial, disini obat langsung masuk ke pembuluh darah sehingga efek yang dihasilkan lebih cepat dibandingkan intramuscular dan subkutan karena obat di metabolisme serempak sehingga durasinya agak cepat.
•         Intramuscular, terdapat lapisan lemak yang cukup banyak sehingga obat akan konstan dan lebih tahan lama.
•         Subkutan, terdapat lapisan lemak yang paling banyak sehingga durasi lebih lama disbanding intramuscular.
Di lihat dari rata-rata waktu onset dan durasi, sangat terlihat jelas bahwa terdapat perbedaan pada masing-masing cara pemberian. maka memastikannya dilakukan dengan uji stastistik analisa varian satu jalan karena di sini hanya terdapat satu variable yakni cara pemberian. melalui uji anava didapatkan ada perbedaan onset antar kelompok pada pengaruh cara pemberian obat terhadap absorbsi sehingga dilakukan uji anava. Maka  Pada onset di dapatkan hasil rata-rata untuk intraperitonial 6 menit , intramuscular 4 menit, subkutan 5 menit , dan untuk peroral 5 menit( urutan sesuai dengan teoritis yang ada),intracutan 5 menit. Sedangkan pada durasi didapatkan hasil untuk peroral 28 menit , intraperitonial 11 menit ,intramuscular 15 menit, subkutan 50 menit. (urutan sesuai dengan teoritis yang ada) dan intracutan 12 menit..
Dan dari uji pasca anava tersebut didapatkan hasil bahwa: Pemberian peroral dengan intraperitonial, dan pemberian peroral dengan intramuscular memiliki perbedaan yang signifikan karena peroral akan melalui saluran cerna yang memiliki rute panjang dan banyak factor penghambat sedangkan intraperitonial langsung masuk dalam pembuluh darah dan intramuscular mengandung cukup lemak untuk mengabsorbsi obat.
Dengan adanya variasi onset dan durasi dari tiap-tiap cara pemberian dapat disebabkan oleh beberapa hal, meliputi:
•         Kondisi hewan uji dimana masing-masing hewan uji sangat bervariasi yang meliputi produksi enzim, berat badan dan luas dinding usus, serta proses absorbsi pada saluran cerna.
•         Factor teknis yang meliputi ketetapan pada tempat penyuntikan dan banyaknya volume pemberian diazepam pada hewan uji                  
Cara pemberian obat dapat mempengaruhi onset dan durasi dimana hubungannya dengan kecepatan dan kelengkapan absorbsi obat. Kecepatan absorbsi obat di sini berpengaruh terhadap onsetnya sedangkan kelengkapan absorbs obat berpengaruh terhadap durasinya misalnya lengkap atau tidaknya obat yang berikatan dengan reseptor dan apakah ada factor penghambatnya.
Dari percobaan yang telah diamati, masing-masing cara pemberian memiliki keuntungan dan kerugian. Pada peroral keuntungannya mudah pemberiannya dan lebih aman, kerugiannya adalah efeknya lama karena melalui saluran cerna dan bias terjadi inaktivasi obat dihati. Pada intraperitonial keuntungannya efek yang dihasilkan sangat cepat, kerugiannya memiliki resiko yang sangat besar karena obat tidak dapat dikeluarkan bila terjadi kesalahan. Pada intramuscular,intracutan dan subkutan keuntungannya absorbsi yang terjadi relative cepat, sedangkan kerugian pada subkutan adalah hanya digunakkan untuk obat yang tidak mengiritasi jaringan.
            Dalam pemberian obat perlu pertimbangan mengenai masalah-masalah seperti berikut :
1.      Efek apa yang dikehendaki, lokal atau sistemik.
2.      Onset yang bagaimana dikehendaki, yaitu cepat atau lambat.
3.      Duration yang bagaimana dikehandaki, yang lama atau pendek.
4.      Apakah obatnya tidak rusak di dalam lambung atau di usus.
5.      Rute yang mana mau digunakan yang relatif aman. Melalui mulut, suntikan atau melalui dubur.
6.      Melalui jalan mana yang menyenangkan bagi Dokter atau pasien. Ada orang yang sukar menelan dan ada orang yang takut disuntik. Dan waktu muntah orang sukar minum obat.
7.      Obat yang mana yang harganya relatif murah.


II.    PERCOBAAN
a.    Tujuan
•    Untuk mengetahui bagaimana cara memberi penandaan pada hewan percobaan.
•    Untuk mengetahui berbagai pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang ditimbulkan.
•    Untuk mengetahui teknik pemberian obat melalui rute intraperitoneal (i.p.).
•    Untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis terhadap efek yang ditimbulkan.
- Untuk menyatakan onset of action obat berdasarkan rute yang diberikan.
- Untuk menyatakan duration of action obat berdasarkan rute yang diberikan.
- Untuk mengetahui efek dari pemberian Diazepam 3 % dan alcohol 70% berdasarkan dosis dan rute pemberian terhadap hewan percobaan.
b. Alat
Spuit injeksi 1 cc
Sonde lambung
Stetoskop
Selang untuk pemakaian perektal
Alat cukur rambut
Stopwatch
Senter
c. Bahan
Diazepam 3 %
Alcohol 70%
    d. Probandus
    Kelinci
    e. Cara kerja
    Tiap kelompok bekerja dengan 4 hewan uji. Tiap hewan uji diberi obat dengan salah satu cara pemberian :
1.    Hewan uji A dengan cara peroral
2.    Hewan uji B dengan cara intramuscular
3.    Hewan uji C dengan cara intracutan
4.    Hewan uji D dengan cara Subcutan
5.    Hewan uji E dengan cara Intraperitonial
    f. Pengamatan
        Amati dan catatlah interval waktu antara waktu pemberian obat dengan waktu timbulnya efek yang diamati (onset) dan waktu antara timbulnya efek dengan hilangnya efek itu (durasi) dari efek mengantuk, tidur, inkoordinasi motorik, relaksasi otot dan hilangnya reflex kornea dan cahaya.
    g. Perhitungan Dosis
1.    Kelinci I
berat badan = 300g
dosis Diazepam =0,05cc (secara Oral)
2.    Kelinci II
berat badan = 500g
dosis Diazepam =0,15cc (secara Subcutan)
3.    Kelinci III
berat badan = 300g
dosis Diazepam =0,1cc (secara Intraperitonial)
4.    Kelinci IV
berat badan = 540g
dosis Diazepam =0,15cc (secara Intramuscular)
5.    Kelinci V
berat badan = 500g
dosis Diazepam =0,15cc (secara Intracutan)   
        Onset dan durasi setelah digabungkan dengan hasil praktikum kelompok lain kemudian bandingkan antar cara pemberian obat.





HASIL PENGAMATAN
1.    Tabel onset dan durasi obat pada berbagai cara pemberian
Kelompok    Berat Kelinci    Cara Pemberian obat    Onset
Durasi
I    300    Oral    5/28
II    500    SC    5/50
III    350    IP    6/11
IV    540    IM    4/15
V    500    IC    5/12
           
Dari hasil pengamatan diatas dapat disimpulkan bahwa timbulnya efek dan hilangnya efek (durasi) lebih cepat IP dibandingkan IM, IC,SC dan oral. Karena IP tidak mengalami absorspi tetapi langsung masuk kedalam sirkulasi sistemik, sehingga kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat dan dapat disesuaikan langsung dengan respon penderita.
2.    Grafik Onset/Durasi cara pemberian obat


BAB IV
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Pada penandaan hewan percobaan dibuat pada ekor dengan garis-garis yang disesuaikan dengan urutan Kelinci.Pada pemberian obat secara oral lebih lama menunjukkan onset of action dibanding secara Intraperitonial, hal ini dikarenakan Intraperitonial tidak mengalami fase absorpsi tapi langsung ke dalam pembuluh darah.Sementara pemberian secara oral, obat akan mengalami absorpsi terlebih dahulu lalu setelah itu masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek. Cara pemberian secara intraperitonial (i.p.) dengan menyuntikkan tepat pada bagian abdomen kelinci dan melaui oral dengan menggunakan oral sonde untuk mempermudah masukknya obat kedalam mulut kelinci yang sempit dan langsung ke kerongkongan.
Pada pemberian obat secara oral lebih lama menunjukkan onset of action dibanding secara Intraperitonial, hal ini dikarenakan Intraperitonial tidak mengalami fase absorpsi tapi langsung ke dalam pembuluh darah.Sementara pemberian secara oral, obat akan mengalami absorpsi terlebih dahulu lalu setelah itu masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek. Semakin tinggi dosis yang diberikan akan memberikan efek yang lebih cepat
 Onset of action dari rute pemberian obat secar IP lebih cepat diperoleh daripada rute pemberian obat secara oral.
 Duration of action dari rute pemberian obat secara IP lebih panjang (lama) dibandingkan rute pemberian obat secara oral.
Cara pemberian secara intraperitonial (i.p.) dengan menyuntikkan tepat pada bagian abdomen mencit dan melaui oral dengan menggunakan oral sonde untuk mempermudah masukknya obat kedalam mulut mencit yang sempit dan langsung ke kerongkongan.
        Semakin tinggi dosis yang diberikan akan memberikan efek yang lebih cepat.
        Onset of action dari rute pemberian obat secar IP lebih cepat diperoleh daripada rute pemberian obat secara oral.
         Duration of action dari rute pemberian obat secara IP lebih panjang (lama) dibandingkan rute pemberian obat secara oral.
        Dari hasil yang diperoleh diketahui :
  Kelinci I diberikansecara oral pada menit ke 1 normal sampai mengantuk pada menit ke 5 (reaktif) pada menit ke 6 bergerak lambat mulai lelah otot-otot menjadi relaksasi sampai menit ke 28 mulai bangun dan bergerak lincah.
  Kelinci II secara Subcutan pada menit 1 sampai menit ke 5 normal, selanjutnya dari menit ke 30 menit sampai ke 50 reaktif dan pada akhirnya bergerak lambat sampai akhirnya tidur .
  Kelinci III secara Intraperitonial pada 1 menit pertama masih normal, selanjutnya garuk-garuk (reaktif) sampai menit ke 5 gerak lambat,selanjutnya dari menit ke 6 mulai lelah otot-otot menjadi relaksasi sampai menit ke 11 mulai bangun dan bergerak lincah.
  Kelinci IV secara Intramuscular normal pada 1 menit pertama, menit ke 4 (reaktif), selanjutnya bergerak lambat hingga menit ke 15.
  Kelinci V secara IC (reaktif) pada menit ke 5 setelah disuntikkan, kemudian mulai bergerak lambat pada menit ke 6 sampai menit ke 12 hingga bangun dan bergerak lincah.
B.    SARAN
1.    Lebih berhati-hati dalam penanganan hewan percobaan dan dalam pembacaan skala spuit agar dosis yang diberikan tepat dan tercapai efek yang dikehendaki.
2.    Lebih berhati-hati dalam pemberian obat secara interperitonial agar tidak mengalami kerusakan pada abdomen maupun tusukan pada organ-organ dalam yang vital.
3.    Dapat digantikan atau digunakan turunan barbiturat lainnya maupun obat golongan sedatif-hipnotik lainnya (seperti benzodiazepin) untuk mengetahui perbandingan onset of action dan duration of action.










BAB V
DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. (1995). Prinsip Umum dan Dasar Farmakologi. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Hal. 19-20.
Neal,Michael J. (2005). At a Galance Farmakologi Medis, Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga. Hal. 12.
Tanu, Ian. (2007). Farmakologi dan Terapi, Edisi Kelima. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Hal. 179, 185-186.
Tjay, Tan Hoan dan Kirana Rahardja. (2007). Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya, Edisi Keenam, Cetakan Pertama. Jakarta : PT. Elex Media Komputindo. Hal. 419, 423.
Widodo, V. B & Lotterer E. (1993). Kumpulan Data Klinik Farmakologi. Cetakan I. Yogyakarta : UGM Press. Hal. 10.



No comments:

Post a Comment

Post a Comment